Tim Promosi/ April 20, 2020/ Tak Berkategori/ 0 comments

SMK PGRI 3 Malang (Skariga) membuat terobosan jitu dalam upaya mencegah penularan Corona Virus Disease 2019  (Covid-19), khususnya di lingkungan sekolah. Salah satu sekolah terbaik di Malang ini berhasil membuat tempat cuci tangan otomatis, hasil karya guru-guru dari jurusan elektro. Alat yang diberi nama Skarwish tersebut, sudah diproduksi menjadi beberapa unit dan di letakkan di berbagai sudut sekolah.


Guru Jurusan Elektro SMK favorit di Malang ini, Mustafa Darmanto, ST mengatakan, selama masa pencegahan Covid-19 yang telah berlangsung satu bulan terakhir masih banyaknya tamu yang berkunjung ke Skariga. Untuk itu pihak sekolah berinisiatif untuk menyediakan tempat cuci tangan.  Seiring berjalannya waktu inisiatif tersebut berkembang untuk membuat cuci tangan yang efektif dan lebih steril.
“Terciptalah Skarwish ini yang lebih efektif dan aman digunakan, sesuai arahan dan ide bapak kepala sekolah,” kata  Mustafa Darmanto kepada Malang Post.


Skarwish menurutnya,  terbuat dari rangkaian elektrik sederhana. Yaitu dengan menggunakan sensor Passive Infrared (PIR) yang dikoneksikan ke valve elektrik, untuk membuka kran supaya air mengalir. Sensor PIR sendiri fungsinya untuk mendeteksi gerakan manusia.
Sensor PIR dipasang menggunakan cassing untuk melindungi sensor dari percikan air sehingga tidak mengganggu sistem kerja alat. Valve yang digunakan bertegangan 12 volt. Sehingga tidak berbahaya bagi manusia.
Cara kerja alat yaitu pada saat sensor menangkap gerakan akan mengaktifkan output kakinya dan tertangkap oleh relay. Kemudian valve akan bekerja untuk membuka kran.  Kran terbuka selama tiga sampai lima detik. Durasi waktu tersebut bisa diatur dengan sesuai keinginan. “Meskipun simple konsep tersebut sangat tepat guna bagi masyarakat untuk menjaga kesehatan dari penyebaran virus,” terangnya.


Mustofa mengungkapkan, terciptanya Skarwish bermula dari sebuah gagasan menciptakan tempat cuci tangan tanpa menyentuh kran. Sebab virus bisa saja berjangkit di kran air dan berpotensi untuk berpindah ke tangan orang lain.
Dengan adanya kran otomatis orang tidak perlu menyentuh kran. Sensor yang menangkap adanya gerakan tangan di sekitar mulut kran akan mengalirkan air secara otomatis. “Dan tentunya ini sangat membantu kita dengan cara cuci tangan yang lebih mudah,”  terangnya.


Skarwish diletakkan di beberapa titik dalam lingkungan Skariga, mulai dari gerbang sekolah, tempat parkir, ruang guru, dan di sekitar kelas. Dengan begitu guru, siswa atau tamu yang datang ke Skariga dalam kondisi tangan yang bersih.
Kendati demikian, upaya preventif yang dilakukan Skariga tidak cukup hanya dengan cuci tangan. Protokol kesehatan tetap diperhatikan dengan seksama oleh sekolah ini.  Para tamu yang datang ke sekolah, terlebih dulu diukur suhu badannya oleh tim security. Selanjutnya mereka diarahkan untuk cuci tangan.


Di beberapa ruangan juga ada peringatan untuk memakai masker dan menjaga jarak aman. Seperti yang tertera dalam aturan social distancing.
Berkaitan dengan biaya, Mustafa memaparkan, rangkaian elektrik dari Skarwish  menghabiskan biaya hanya Rp 200 ribu per unit. Ditambah biaya dari komponen yang lain seperti kran dan wadah cuci tangannya. Harga yang cukup murah dari sebuah alat yang sangat bermanfaat disaat kondisi seperti saat ini.
Ia menambahkan, kendalanya hanya pada pengadaan alat. Terutama sensor PIR yang sudah terbatas di Kota Malang, mengingat banyak lembaga yang membuat bilik disinfektan. Bilik yang banyak diproduksi perguruan tinggi tersebut kebanyakan juga menggunakan sensor yang sama seperti yang dipakai Skarwish. Dengan mendeteksi gerakan manusia, maka desinfektan akan menyemprot secara otomatis ke tubuh seseorang yang memasuki bilik tersebut.


Awalnya Skariga juga berencana membuat bilik tersebut. Hanya saja belakangan ada info dari WHO yang menganjurkan untuk tidak menggunakan disinfektan sebagai bahan yang disemprotkan ke tubuh manusia. “Akhirnya kami tidak jadi membuat dan beralih ke cuci tangan otomatis ini. Terkait komponen alat yang langka, kita harus memesan ke luar kota lebih dulu, sehingga waktunya akan lebih lama,” tuturnya. (imm/adv/aim)

Editor : Muhaimin
Penulis : Imam Wahyudi

Artikel ini sudah terbit di https://malang-post.com/berita/detail/smk-pgri-3-ciptakan-skarwish-tempat-cuci-tangan-otomatis


facebook sharing button
twitter sharing button
pinterest sharing button
linkedin sharing button
whatsapp sharing button
Share this Post

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*